Saya nggak tahu kenapa saya suka sekali dengan
malam sementara saya membenci gelap. Mungkin karena saya menyukai kesunyian.
Seperti yang semua orang tahu, Tuhan tidak pernah menciptakan sebuah kekurangan
tanpa memberikan sedikit kelebihan. Dan buat saya, itulah kelebihan dari malam.
Sunyinya yang selalu berhasil membuat saya merasa tenang sejenak. Dan malam
menjadi satu bagian yang berperan penting atas semua yang saya tulis.
Seperti saat ini, saya kembali mendapat inspirasi
dari malam untuk mereview kembali salah satu buku favorit saya. Buku yang
paling membuat saya jatuh cinta dan berhasil membuat saya tidak merasa bosan
meski sudah membacanya berkali-kali. Judulnya Sabtu Bersama Bapak karangan
dari mas Aditya Mulya.
Dulu buku ini sering sekali saya temukan di salah
satu rak khusus novel di toko buku gramedia di kota saya. Tapi saya gak pernah
merasa tertarik untuk membawanya ke kasir. Karena jujur saja, saya kurang
begitu suka dengan buku bertema keluarga. Tapi ketika suatu malam saat saya
membuka-buka instagram, (@syahharbanu) saya menemukan sebuah informasi kalau
buku ini akan segera difilmkan. Ada beberapa video potongan dari cuplikan
filmnya yang beredar dan saat itu saya mulai merasa tertarik. Di awal bulan,
setelah menerima gaji, saya kembali ke gramedia dan kali itu saya menenteng
buku Sabtu Bersama Bapak ke kasir.
Cerita yang sangat menarik dan berhasil membuat
saya nggak berhenti membaca sejak membuka lembaran pertama.
Di awal bab, dikisahkan seorang laki-laki berusia
38 tahu, Gunawan Garnida yang sedang mempersiapkan diri untuk merekam dirinya
dengan handycam. Laki-laki itu adalah bapak dari dua orang anak bernama Cakra
Garnida dan Satya Garnida yang akan menghadapi kematian dalam waktu dekat.
Karena keinginannya untuk mendidik anak-anaknya hingga dewasa, dia memutuskan
untuk merekam beberapa video yang dapat membantu istrinya untuk membimbing
kedua putra mereka. Video ini lah yang ditonton Satya dan Cakra setiap hari
sabtu. Dan video yang berisi pesan-pesan dari bapak itu mengantarkan mereka
menjadi seorang laki-laki dewasa. Yang tidak hanya dewasa umur tapi juga dewasa
dalam berfikir dan beakhlak.
Satya
si sulung yang perfectionis. Dia menginginkan
dunianya berjalan seperti apa yang bapak ajarkan padanya. Ambisius dan pekerja
keras. Satya menikahi seorang gadis bernama Rissa dan mempunyai dua orang anak
dari hasil pernikahan mereka. Satya yang selalu semuanya ingin terlihat
sempurna, bahkan dalam mendidik anak-anaknya, Satya menerapkan apa yang
diajarkan bapaknya dari dia. Hingga tanpa sadar, hal itu membuat anak-anaknya
takut dan mulai menjaga jarak padanya. Disinilah konflik si Satya. Dia
merasa apa yang diajarkan bapaknya itu memang benar. Karena terlihat jelas
hasilnya pada dirinya yang begitu sukses. Tapi ternyata, Rissa dan kedua
anaknya tidak menginginkan Satya yang seperti bapaknya. Mereka hanya ingin
Satya yang seperti Satya.
Cakra
si fakir cinta. Buku ini menjadi semakin menarik
dengan adanya tokoh Cakra ini. Laki-laki sukses, memiliki tampang yang sedikit
enak dipandang dan sudah punya rumah sendiri, sayangnya dia masih saja jomblo. Dan
yang lebih naasnya, Cakra yang tak pernah menjalin hubungan menjadi seorang
laki-laki yang akan bersikap konyol dihadapan wanita yang disukai.
Saya sangat suka dengan tokoh Cakra ini. Bos yang
begitu bersahabat dengan karyawannya. Humoris, santai tapi pekerja keras. Cakra
ini juga dikisahkan sedikit lebih alim. Dan yang membuat saya jatuh cinta pada
tokoh ini, pemikiran Cakra yang dibuat begitu dewasa.
Suatu hari, ada karyawan baru yang datang ke
kantor mereka. Ayu namanya. Dan sejak pertama melihat Ayu, Cakra sudah jatuh
cinta pada perempuan itu. Dan semakin jatuh cinta ketika dia selalu melihat
sepatu Ayu ada di rak sepatu mushola. Cakra, dibantu beberapa karyawannya,
Firman, Wati dan masih ada yang lainnya tapi saya lupa namanya, mencoba
medekati Ayu. Tapi emang dasar Cakra yang memang selalu payah di depan wanita,
tak jarang ia melakukan tindakkan-tindakkan konyol di depan Ayu yang membuat
Ayu merasa Cakra sedikit aneh. Ayu yang pernah punya pengalaman traumatik
dengan laki-laki aneh memutuskan untuk menjaga jarak dengan Cakra dan memilih
untuk membuka hati dengan rekan kerjanya yang lain. Salman. Saat mendengar
Salman telah menyatakan cintanya dengan Ayu, Cakra sedikit merasa putus asa dan
setuju untuk bertemu dengan perempuan yang dijodohkan ibunya.
Ibu Itje
Perempuan kuat yang sudah menjadi single mother
sejak anak-anaknya masih kecil. Perempuan yang berhasil membawa anak-anaknya
menuju kesuksesan. Di hari tuanya, ibu Itje divonis dokter menderita kanker
payudara. Karena pesan suaminya "ingat, waktu dulu kita jadi anak, kita
gak nysahin orang tua. Nanti kalau kita sudah tua, kita gak nyusahin
anak." Membuat ibu Itje memutuskan untuk menyembunyikan penyakitnya dari
kedua anaknya. Beliau mencoba melawan sakitnya sendiri, berobat sendiri hingga
melakukan operasi tanpa sepengetahuan kedua anaknya. Hanya satu yang ditakutkan
ibu Itje jika anak-anak mereka tahu, Satya yang berada diluar negeri sana akan
uring-uringan dan pasti akan langsung terbang ke Indonesia untuk menengoknya.
Dan Cakra, Jelas, anaknya yang satu itu akan melupakan kegiatannya dalam
mencari jodoh. Sementara, ibu itje sudah sangat ingin mengantarkan Cakra ke
plaminan. Karena keinginannya untuk melihat Cakra menikah membuat ibu Itje
mencoba menjodohkan Cakra dengan salah satu anak perempuan temannya.
Setiap karakter dalam buku ini memiliki daya
tarik sendiri-sendiri. Bapak Gunawan Garnida yang mempunyai cara sendiri untuk
mendidik anak-anaknya agar mereka tak meresa kekurangan kasih sayang dari
seorang ayah, Ibu itje yang begitu tegar menjalani kehidupan setelah suaminya
meninggal hingga berhasil mengantarkan kedua anak laki-lakinya menuju
pernikahan. Satya yang selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik dan membuat
keluarganya hidup lebih baik. Cakra dengan berbagai macam kekonyolanya, kedewasaannya
dan keuletannya dalam bekerja. Namun satu yang pasti, kedua anak ini sangat
mencintai ibu mereka.
Yang saya suka dari buku ini adalah, Aditya
Muliya berhasil menyajikan kisah dalam kehidupan sehari-hari. kehidupan seorang
single parent, kehidupan seorang laki-laki yang takut keluarganya akan
mengalami kesulitan jika bersama dia hingga mengubahnya menjadi orang yang
perfectionis. Kehidupan seorang laki-laki yang sudah memasuki usia 30 tahun,
mapan, sudah siap menikah, tapi memiliki krisis kepercayaan diri terhadap
perempuan. Ada begitu banyak pesan moral dari buku ini yang dapat kita ambil
dari rekaman video pak Gunawan Garnida, kisah ibu itje, Satya dan Cakra. Pesan
dalam mendidik anak. Pesan menjadi seorang laki-laki dewasa. Pesan menjadi
seorang yang mandiri dan pantang putus asa. Pesan untuk membentuk pribadi yang
jauh lebih baik setiap harinya.
Saya benar-benar sangat suka sekali dengan buku
yang satu ini, Sabtu Besama Bapak.